3 Kebiasaan Yang Bisa Bantu Ibu Untuk Mengatasi Bayi Menangis

Mengatasi bayi menangis faktanya sangat mudah untuk dilakukan oleh ibu. Kebiasaan sederhana bisa menenangkan buah hatinya. Apa saja kebiasaan tersebut?

Tangisan bayi memang penuh makna. Aktifitas pertama yang dilakukan oleh bayi sejak dilahirkan adalah menangis. Bahkan, bayi yang tidak menangis saat dilahirkan perlu distimulasi agar menangis, misalnya digoyang-goyangkan.

Setelah beberapa minggu usia kelahiran bayi, bayi akan sering memanfaatkan tangisan untuk menunjukkan berbagai hal. Sebagai ibu, memahami makna tangisan ini sifatnya sangat diperlukan. Seperti apa makna dibalik tangisan bayi dan bagaimana cara menanganinya?

Makna Dibalik Tangisan Bayi

Makna tangisan bayi cukuplah banyak. Hampir di tiap hari, bayi akan selalu menangis. Terutama jika ingin meminta sesuatu pada orang tuanya.

Selain tangisan, isyarat lain yang ditunjukkan bayi adalah menendang sampai melambaikan tangannya. Namun paling banyak adalah memanfaatkan suara tangisan. Karena, tangisan ini lebih memberikan perhatian pada ibundanya. Mengenai maknanya, ibu bisa memperhatikannya di bawah ini.

  • Bayi lapar

Bayi yang membutuhkan asupan makanan akan menangis. Tangisan ini menunjukkan pada ibu jika bayi membutuhkan makanan. Biasanya, bayi akan tenang dengan sendirinya jika telah diberikan asi.

  • Tidak nyaman dengan sesuatu

Ketidaknyamanan bayi juga membuat bayi menangis. Tangisan ditujukan untuk meminta bantuan ibu dalam memberikan kenyamanan. Contoh ketidaknyamanan bayi adalah sakit, kedinginan atau kepanasan, ngompol di popok, serta terlalu ketatnya baju yang dikenakan.

  • Bayi mengalami kolik

Makna dari tangisan bayi yang selanjutnya adalah menunjukkan jika perutnya mengalami rasa sakit. Nyeri pada bagian perut ini bisa ditimbulkan oleh kolik. Biasanya, kolik terjadi pada senja atau malam hari. Tangisannya akan sangat keras.

Cara Menangani Bayi Yang Sering Menangis

Tangisan bayi disebabkan oleh banyak hal. Entah itu disebabkan oleh sakit atau ketidaknyamanan buah hati. Oleh karenanya, cara terbaik untuk menanganinya adalah dengan menghilangkan penyebabnya.

Mengenai gambaran kecil tentang cara menanggulangi keseringan bayi menangis, ibu bisa mempraktekkan kebiasaan baik di tiap harinya. Kebiasaan ini digambarkan dengan praktek di bawah ini.

  • Memberikan asi

Bayi yang sering menangis akan lebih mudah ditenangkan dengan memberikan asi ekslusif. Pemberian asi ini akan membuat bayi lebih nyaman. Bahkan, jika penyebabnya adalah lapar, maka pemberian asi adalah pilihan terbaik untuk dipraktekkan.

  • Ciptakan kenyamanan pada buah hati

Cara menenangkan bayi menangis yang paling khas adalah mencurahkan perhatian pada buah hatinya. Caranya adalah dengan menciptakan kenyamanan. Bayi yang nyaman dengan lingkungan barunya akan lebih mudah diam dan tidur pulas.

Ibu bisa mempraktekkan banyak hal. Pertama adalah dengan berbisik di telinga bayi. Bisikan dengan nada yang lembut akan membuat bayi lebih tenang. Kebiasaan ini sudah sangat dikenal bayi semenjak masih di kandungan.

Kedua adalah dengan mengayunkan bayi. Mengayunkan/menggoyangkan tubuh bayi juga menjadi kebiasaan yang sangat familiar bagi bayi. Setidaknya, bayi sudah pernah mengalaminya semenjak di dalam rahim.

Ketiga adalah memandikan. Normalnya, bayi akan sangat senang bila dimandikan. Suasana nyaman didapatkan selama dimandikan. Intinya, ciptakan kesan nyaman agar bayi tidak mudah menangis.

  • Atasi masalah kolik

Sebelum melakukan penanganan terhadap kolik, ibu memang harus paham mengenai kondisi buah hatinya. Pastikan jika bayi mengalami kolik. Baru, ibu bisa melakukan penanganan terhadapnya. Jika bukan dari kolik, tentu keliru melakukan cara tersebut.

Kesimpulannya, berikan kenyamanan bagi bayi dan tangani sejumlah masalah yang menyebabkan bayi sering menangis. Dengan menghilangkan penyebabnya, menenangkan bayi akan sangat mudah. Jadi, sudahkah ibu mempraktekkan kiat untuk mengatasi bayi menangis?

Penyebab Dan Pencegahan Ruam Popok Bayi

Pernah tidak, Ibu mendapati bayi Ibu rewel dan merasa tidak nyaman ketika dipakaikan atau melepaskan popok? Coba Ibu cek di area yang biasa tertutup popok, apa ada bercak merah yang mengalami peradangan? Jika iya, anak Ibu sedang terkena ruam popok bayi.

Ruam popok bayi merupakan hal yang biasa terjadi pada bayi. Walaupun bukan penyakit yang berbahaya, namun kondisi ini akan membuat bayi merasa sakit dan perih. Biasanya ruam ini bisa Ibu temukan di sekitar pantat atau area yang biasa terkena urin dan tinja.

Penyebab ruam popok pada bayi bisa disebabkan oleh pengaruh urin dan tinja yang terkena kulit bayi dalam jangka waktu yang lama. Bahkan, seandainya pun Ibu secara teratur mengganti popok dan membersihkannya secara cepat ketika si buah hati mengeluarkan fases, kemungkinan terjadinya ruam popok ini tetaplah ada.

Ada beberapa alasan yang menjadi penyebab terjadinya ruam popok bayi ini.

  • Zat amonia yang terdapat pada urin dan tinja bayi, jika terlalu lama terkena kulit tanpa segera diganti.
  • Kadar sensitifitas kulit bayi yang masih tipis rentan terserang ruam popok bayi.
  • Alergi yang diderita si bayi terhadap suatu bahan yang mungkin menjadi bahan pembuatan popok.
  • Adanya gesekan yang terlalu sering antara popok dan kulit bayi.
  • Pemakaian popok yang terlalu ketat.
  • Iritasi yang diakibatkan dari bahan popok yang terbuat dari plastik dan juga karet.
  • Diare juga bisa menjadi penyebab ruam popok bayi, karena ibu akan selalu mengganti popok sehingga terjadi gesekan dan intensitas bayi terkena fases pun menjadi lebih sering.

Walaupun ruam popok bayi ini hal yang biasa terjadi, namun tidak ada salahnya Ibu sebagai orang tua untuk meminimalisir atau mencegah terjadinya kondisi ini pada buah hati Ibu.

  • Pilihlah bahan popok yang ramah pada kulit bayi Ibu. Terkadang ada popok yang menyebabkan kulit bayi bereaksi terhadap satu produk, jika sudah melihat tanda-tanda hal tersebut, segera ganti.
  • Pilih bahan popok yang menyerap urin seketika tanpa meninggalkan kelembaban yang berlebihan pada bayi
  • Segera ganti popoknya jika bayi buang air besar
  • Ketika popok sudah terlihat penuh ataupun kotor, ganti sesegera mungkin dengan yang baru
  • Bersihkan area yang tertutup popok hingga kering, sebelum memakaikan popok pada bayi Ibu
  • Hindari menggunakan popok yang terlalu ketat pada bayi Ibu, agar kulit bayi bisa bernafas dan tidak menimbulkan gesekan kuat
  • Periksakan pada dokter anak, apakah bayi mempunyai riwayat alergi sehingga menimbulkan ruam popok bayi
  • Jangan menggunakan tisu beralkohol untuk membersihkan area kelamin bayi. Jika bayi telah terjangkit ruam popok bayi, hal ini akan sangat menyakitkan baginya dan semakin menambah iritasi pada kulitnya

Ketelatenan, kesabaran dan kejelian seorang Ibu akan membantu buah hati agar terhindar dari ruam popok bayi. Walaupun, ruam tersebut masih mengenai bayi Ibu, bersikaplah tenang untuk mengatasinya. Setidaknya melakukan tindakan pencegahan, akan membuat bayi Ibu tidak selalu terjangkit ruam popok bayi secara terus menerus dan menjadi parah.

Selalu perhatikan kondisi bayi Ibu dengan hati-hati. Bagaimana pun, Ibu dan Ayah selalu menginginkan pertumbuhan dan kesehatan buah hati agar selalu terjaga. Mengawali perawatan bayi dengan menjaga kebersihan tubuhnya, akan menjadi langkah awal, anak tidak terserang penyakit yang tidak diinginkan.

Demikian informasi ini, semoga bermanfaat dan dapat membantu Ibu dan Ayah dalam mengatasi ruam popok bayi.

5 Penyebab Utama Yang Membuat Balita Susah Makan

Biasanya, seorang anak mulai mendapatkan makanan tambahan dan susu pendamping ASI ketika menginjak usia 6-7 bulan. Seiring bertambahnya usia, maka porsi makanan yang diberikan pun harus semakin banyak dan lebih besar dibandingkan dengan jumlah ASI setiap harinya.

Normalnya, anak mendapatkan tiga jenis makanan berbeda dalam satu hari, di antaranya adalah makanan padat, susu tambahan pendamping ASI, dan ASI dari Ibu. Seringnya, kebiasaan penting dan baru ini malah menimbulkan masalah susah makan pada balita. Tentunya, Ibu harus mencari akal untuk menyiasati hal ini, bisa pula dengan mencari tips membangkitkan selera makan pada balita. Namun, yang patut Ibu ketahui adalah lima alasan mengapa balita mengalami hal ini, berikut penjelasannya :

 

  • Bosan tekstur makanan

 

Jangan heran bila balita Ibu sudah menunjukkan rasa bosan pada tekstur yang setiap hari diberikan. Bahkan tak mustahil bila balita juga merasa mual dengan makanan lunak ataupun campur aduk. Ibu harus cerdik untuk menyiasati olahan dan penyajian makanannya. Ibu bisa bermain variasi bahan dan warna agar balita tetap tertarik dan suka makan, misalnya dengan menghaluskan terlebih dahulu nasi lalu memisahkannya dengan lauk dan sayur.

 

  • Terlalu sering memakan camilan manis dan gurih

 

Bukan hal yang mustahil bila balita mengalami masalah susah makan karena ia memiliki kebiasaan makan yang salah, seperti misalnya ia sudah mengenal susu kemasan siap minum, cokelat, permen, hingga makanan ringan yang mengandung MSG padahal umurnya belum siap untuk mengkonsumsi minuman dan makanan seperti itu. Meskipun mengenyangkan dan membuat balita lahap ketika memakannya, tetapi minuman dan makanan jenis ini tidak bisa memenuhi kecukupan gizi dan nutrisinya. Nah, karena perutnya telah kenyang dengan minuman dan makanan seperti itu, maka jangan salahkan bila akhirnya balita cenderung menolak makanan yang Ibu berikan.

 

  • Balita tidak benar-benar lapar

 

Pernahkah terpikir dalam benak Ibu bahwa makanan yang terdiri dari tiga kali makanan utama dan dua kali makanan selingan sering membuat balita terasa kenyang? Perlu Ibu pahami, ketika waktu makan yang berikutnya tiba, ia belum benar-benar lapar karena metode yang diberikan sebelumnya. Belum lagi rutinitas makan dan minum susu yang bisa membuat balita bosan, sehingga tak jarang hal ini akan terus terbawa hingga masa batita kelak. Namun, tak jarang orang tua lupa dan menganggap perilaku menolak makanan ini sebagai masalah besar dan harus ditangani serius.

 

  • Selera terhadap rasa tertentu

 

Ibu tentunya juga harus memahami, bahwa seiring dengan pertambahan usianya maka balita pun sudah memiliki selera terhadap rasa tertentu pada makanan. Itulah alasan mengapa makanan balita jangan disamakan dengan makanan bayi yang tak berasa alias tawar. Tak ada salahnya memberikan rasa-rasa yang disukai balita ke dalam makanannya, seperti gula dan garam asalkan tidak berlebihan. Ibu bisa memberikan dan memodifikasi resep makanan untuk balita agar ia tertarik dan lahap ketika makan.  

 

  • Munculnya sikap negativistik

 

Apabila balita sudah menunjukkan sikap penolakan terhadap suatu rutinitas yang selama ini wajib ia jalani, maka itu sudah termasuk ciri munculnya sikap negativistik pada balita. Biasanya, karena khawatir akan kecukupan gizi anak yang tidak terpenuhi, orang tua malah semakin keras memaksa anaknya makan. Tahukah Ibu, bahwa cara ini malah semakin membuat anak melakukan perlawanan untuk menolak hingga akhirnya tantrum. Hal ini merupakan wujud sifat negativistiknya. Maka bisa dimaklumi dan menjadi suatu kewajaran bila  Ibu menemui kasus orang yang enggan makan nasi hingga dewasa. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh trauma akibat perlakuan orang tua yang selalu memberi makan dengan paksa yang diiringi bentakan keras.  

Itulah beberapa penyebab susah makan pada balita yang wajib Ibu cermati agar kebiasaan makannya pun teratur, sehingga gizi dan nutrisi tubuhnya pun tercukupi dengan sempurna. Tak perlu panik dan risau hingga harus memaksa dan membentak si kecil, karena ini akan mempengaruhi kebiasaan makannya kelak. Berikan makanan secara rutin dengan cara yang menyenangkan. Niscaya, balita pun akan melakukan ritual makannya dengan baik.